facebookgoogle plustwitteryoutube

3247

Oleh: Ustadz Amrullah Jamil, Lc

Khutbah Pertama

الحَمْدُ للهِ الربِّ الغَفُوْر، العَفُوالرَّؤُوْف الشَكُوْر، الَّذِي وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِتَحْصَيْلِ المَكَاسِبِ وَالأجُوْرِ، وَجَعَلَ شُغْلَهُمْ بِتَحْقِيْقِ الإيْمَانِ وَالعَمَل ِالصَّالِح، يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ، وَأشْهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلا الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِي بِيَدِهِ تَصَارِيْفُ الأمُوْرِ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أفْضَلُ آمِرٍ وَأجَلُّ مَأمُوْرٍ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسّلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ البَعْثِ وَالنُّشُوْرِ .

أَمَا بَعْدَ: ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [آل عمران: 102]

قَالُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا71)[الأحزاب:70-71]

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!…

Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dua sifat Allah Ta’ala, yang mulia. Diambil dari kata rahmat dengan bentuk mubalaghah. Ar-Rahman lebih kuat maknanya dari Ar-Rahim. Karena Ar-Rahman bermakna memiliki kasih sayang yang meliputi semua makhluk di dunia, dan bagi mukminin di akhirat. Sedangkan Ar-Rahim bermakna memiliki kasih sayang bagi mukminin pada Hari Kiamat. Ini adalah pendapat sebagian besar ulama. Karena rahmat-Nya yang tak terhitunglah kita dapat melakukan hal yang sesuai dengan yang kita inginkan. Allah berfirman,

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.” (Fathir: 2)

Syaikh Asy-Syinqithi Rahimahullah berkata, “Rahmat yang disebutkan dalam ayat itu adalah kasih sayang Allah berupa nikmat-nikmat dunia dan akhirat secara umum, siapa saja yang ia kasihi dari makhluknya, seperti rahmat hujan. Sebagaimana firman Allah, “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu,” dan firman-Nya, “dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan).” (Al-A’raf: 57).

Rahmat yang meliputi segala sesuatu ini adalah rahmat yang umum. Tidak satupun makhluk yang terlepas dari rahmatnya di dunia dan akhirat, dengan bentuk dan takaran yang sudah ditetapkan. Namun, di akhirat tidak ada satupun azab kecuali Allah yang berkuasa atasnya. Rahmat Allah yang ditetapkan untuk orang bertakwa adalah rahmat yang khusus. Sebagaimana firman-Nya, “Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.” Maknanya, rahmat yang bersifat khusus bukan untuk semuanya. Tetapi rahmat Allah itu tidak berujung, karena sifat kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Dan rahmat Allah tak berkurang sedikit pun, sebagaimana tidak berkurang dari hikmah dan kuasa-Nya sedikit pun.

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!…

Kita adalah hamba Allah yang dituntut untuk menebarkan kasih sayang pada sesama. Hal tersebut adalah perintah Allah. Maka wajib bagi kita untuk melaksanakannya sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau di atas mimbar, “Kasihilah, niscaya kalian akan dikasihi, maafkanlah niscaya Allah akan mengampuni kalian. Kecelakaanlah bagi Al-aqma’ Al-qaul (yakni mereka yang memiliki telinga seperti corong, mereka mendengarkan perkataan yang benar dari lubang yang satu, kemudian keluar lewat lubang yang lain) dan kecelakaanlah bagi para penggambar atas apa yang mereka perbuat, padahal mereka mengetahuinya.” (HR. Ahmad dan Thabarani dengan sanadnya)

Sebab lain diwajibkan berkasih sayang karena manusia diciptakan dengan tabiat yang baik ini. Dia jualah yang merahmati kita di dunia dan akhirat. Diriwayatkan oleh Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu dengan Hadits yang marfu’, “Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar-Rahman. Karena itu berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada di bumi, niscaya ang ada di langit akan mengasihi kalian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim. Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih”)

Bentuk-bentuk rahmat Allah Ta’ala adalah:

Allah menciptakan makhluk-Nya dengan bentuk terbaik, memuliakan dan melebihkan anak cucu Adam dari makhluk-makhluk-Nya. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At-Tin: 4)

Allah menanggung rezeki hamba-hamba-Nya, karena itu tidak ada seorangpun yang menanggung orang lain, Allah lah yang menanggung rezeki semuanya. Tidak ada anak yang ditanggung oleh orangtuanya dan sebaliknya. Bahkan, semuanya di bawah keutamaan, kemurahan, dan kebaikannya. Allah berfirman, “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut: 60)

Allah menundukkan untuk manusia apa yang di langit dan di bumi. Semuanya untuk memberikan maslahat kita dan mengatur kehidupan kita. Allah berfirman, “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya…”(An-Nahl: 12), firman-Nya, “Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya) di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. dan biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 10-13)

Allah mengutus para Rasul yang membawa berita gembira dan peringatan, mereka mengenalkan kepada makhluk akan Tuhan mereka, menyeru hamba untuk beribadah kepada-Nya dan mengikhlaskan beragama pada ajaran yang diridhai-Nya, mengajarkan kebenaran, dan memperingati jalan kebatilan dan kesesatan. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya.”(Al-Hadid: 25)

Allah mengutus penghulu orang-orang pertama dan terakhir, imam orang-orang bertakwa, Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Risalahnya merupakan rahmat bagi seluruh alam. Kitab yang diturunkan kepadanya adalah peringatan bagi seluruh alam. Allah berfirman, “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1) Dalam Shahih Muslim, dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah seorang laki-laki yang mendengarku dari umat Yahudi dan Nasrani kemudian ia tidak beriman kepadaku kecuali ia akan masuk neraka.”

Allah menurunkan kepada hamba-hamba-Nya syariat yang sempurna ini dari asasnya, peraturannya, nilainya, dan akhlaknya. Syariat yang sempurna, menyeluruh, cocok dan tepat di sepanjang waktu. Allah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3)

Allah memberi rahmat yang sangat luas dan menyeluruh untuk makhluk-Nya. Rahmat bagi mukminin yang diperoleh di dunia dan di akhirat. Sedangkan bagi selain mukmin yang hanya bersenang-senang dengan kelezatan dunia dan tidak mendapat bagian di akhirat, Allah berfirman, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 156)

Allah mengirimkan rahmat seorang laki-laki pilihan, Al-Musthafa, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sosok lelaki yang telah dikabarkan oleh berita-berita yang mutawatir. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, yang terasa olehnya beratnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)

Rahmat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:

Berkaitan dengan musuhnya. Ketika beliau mengajak orang-orang Thaif memeluk Islam, mereka menjawabnya dengan menghina dan perlakuan buruk orang-orang bodoh di antara mereka. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari kota tersebut sedang kedua kakinya yang mulia berlumuran darah. Lalu Allah mengutus kepadanya malaikat penjaga gunung yang siap mengerjakan apapun yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Malaikat itu berkata kepada beliau, ”Jika kamu mau niscaya aku akan timpakan kepada mereka dua gunung (gunung yang mengelilingi Makkah) ” Beliau menjawab, “Jangan kamu lakukan itu, mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah.”

Berkaitan dengan orang yang tidak paham agama. Suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di masjid. Para sahabat berang dan ingin memukulinya, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mereka sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian beliau datang membawa timba besar berisi air lalu menuangkan di tempat kencing Arab Badui tersebut, lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Aku diutus untuk mempermudah dan tidak diutus untuk mempersulit. Maka, permudahlah dan jangan mempersulit, dan gembirakanlah dan jangan membuat orang menjauh.” dan beliau bersabda kepada Arab Badui, “Sesungguhnya masjid ini dibangun untuk berdzikir kepada Allah dan tempat shalat.” Arab Badui itu berkata, “Demi bapak dan ibuku, Rasulullah tidak mencelahku dan memperlakukanku dengan kejam.”

Berkaitan dengan Arab Badui yang tidak mengerti sopan santun dalam Islam. Suatu ketika, beliau didatangi salah satu dari mereka dengan berkata, “Wahai Muhammad” seraya meletakkan tangannya di pundak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu beliau menoleh kepadanya dengan senyuman.

Pada kesempatan dengan orang yang berbeda, Rasulullah meminjam kepadanya suatu pinjaman, namun Arab Badui tersebut datang sebelum janji yang ditetapkan dengan berkata, ”Wahai Muhammad, bayar hutangmu, sesungguhnya kalian Bani Muthalib kaum yang suka menunda pembayaran utang.” Para sahabat marah dan ingin memukulnya, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya kemudian bersabda, “Sesungguhnya pemilik (pinjaman) punya hak bicara.”

Berkaitan dengan kaum mukminin. Diriwayatkan oleh Malik bin Huwairist Radhiyallahu ’anhu ia berkata, ”Kami datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, saat itu kami adalah para pemuda yang usianya sebaya. Maka kami tinggal bersama beliau selama dua puluh hari dua puluh malam. Beliau adalah seorang yang sangat penuh kasih dan lembut. Ketika beliau menganggap bahwa kami merindukan keluarga kami, beliau bertanya kepada kami tentang orang yang kami tinggalkan. Maka kami pun mengabarkannya kepada beliau. Kemudian beliau bersabda, ”Kembalilah kepada keluarga.” Beliau lantas menyebutkan sesuatu yang aku pernah ingat lalu lupa. Beliau mengatakan, ”Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. Maka jika waktu shalat sudah tiba, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan hendaklah yang menjadi Imam adalah yang paling tua di antara kalian.” (HR. Al-Jamaah)

Berkaitan dengan kepemimpinan umat. Pemimpin umat Islam dituntut untuk merahmati rakyatnya. Doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “”Ya Allah, siapa saja yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR.Muttafaq Alaihi)

Para pemimpin dari Salafus shalih mereka memeriksa keadaan umat bukan untuk memata-matai dan mengekang mereka atau memberikan rasa takut, sebagaimana yang terjadi di sebagian besar negeri kita. Akan tetapi, mereka memeriksa keadaan umat agar dapat meringankan penderitaan mereka.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ


الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!…

Bagaimana seorang hamba mencapai derajat penebar rahmat?

Memahami makna hidup. Hidup ini selalu terjadi perubahan dari satu keadaan kepada keadaan lain. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” Hidup terus berputar dan tidak abadi, kaya setelah miskin dan sebaliknya, sehat setelah sakit dan sebaliknya.. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Wahai Tuhan yang memiliki segala kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau tidak kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan-Mu lah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 26)

Biasakan untuk menebar kasih sayang. Seorang laki-laki datang kepada Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan akan kerasnya hatinya, maka Nabi bersabda kepadanya, “Usaplah kepala anak yatim, dan beri makanlah orang miskin.”

Meyakini adanya balasan dari setiap perbuatan. Hendaklah terpatri di kepala kita akan perkara ganjaran. Jika kita berbuat durhaka maka kita akan didurhakai, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Barangsiapa meringankan satu kesusahan seorang Muslim di dunia, maka Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada Hari Kiamat.”

Memuliakan orang yang lebih tua. Seorang pemuda yang memuliakan orang yang sudah tua karena umurnya, Allah akan menetapkan baginya orang yang memuliakannya di masa tuanya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berbaktilah kepada orang tua kalian niscaya anak-anak kalian akan berbakti pada kalian.” Alkisah, orang-orang melihat seorang laki-laki memukul ayahnya di pasar, maka mereka berkumpul untuk meleraikannya. Namun ayah tersebut berkata kepada mereka, “Biarkanlah anakku memukulku, karena aku pernah memukul bapaknya di bagian ini. Maka Allah menguasakan anakku melakukan itu kepadaku setelah aku melakukannya.”

Bertakwa kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya seorang Muslim dituntut bersifat rahmat dan saling mengasihi, sesuai dengan kemampuannnya dalam bersabar dan lemah lembut. Hendaklah pertama kali ia memperlakukan keluarganya dengan baik, setelah itu kepada bawahannya, tetangganya, lingkungannya, dan pegawainya. Janganlah ia menjadi penyebab istrinya menjadi pembangkang, anak-anaknya menjadi pendurhaka, tetangganya menjadi pengganggu, bawahannya menjadi penentang, dan manusia semuanya mengucilkan dan memusuhinya.

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

( رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8]

(رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) [البقرة: 201]

عِبَادُ اللَّهِ (إنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) [النحل: 90]

فَاِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ