facebookgoogle plustwitteryoutube

7587

Oleh: Ustadz Supriadi Yosup Boni

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )[آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )[النساء: 1]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 71)[الأحزاب: 70-71]

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ )[محمد: 19]

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah! Subhanahu wa Ta’ala…

Islam adalah agama ilmu, Islam mewajibkan umatnya untuk mempelajari Islam. Bahkan perintah berilmu merupakan perintah pertama yang dibebankan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ 2 اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ 3 الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ 5)[العلق:1-5]

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

Imam Al-Bukhari, bahkan menuliskan satu bab khusus dalam Shahih-nya, yaitu bab “Al-Ilmu qabla Al-Qauli wa Al-‘Amal (kewajiban berilmu sebelum berbicara dan beramal). Beliau berdalilkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi,

(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ )[محمد: 19]

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Illah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu. (Muhammad: 19)

Dalam banyak ayat dan hadits dapat dijumpai perintah untuk berilmu. Seorang Muslim tidak akan mampu mengimplementasikan perintah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan baik dan benar jika tidak didasari oleh ilmu. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam satu ayat bahwa hanya orang-orang yang berilmulah yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ) [فاطر: 28]

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Faathir: 28). Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)

Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menambah ilmu. Sebuah seruan yang tidak dijumpai pada perkara-perkara lain. di ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas berfirman bahwa derajat orang-orang yang berilmu tidak sama dengan derajat orang-orang yang tidak berilmu. Orang-orang yang berilmu senantiasa ditinggikan derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara orang-orang yang tidak berilmu derajat mereka bersifat stagnan, bahkan besar kemungkinan lambat laun akan mengalami kemerosotan yang pada akhirnya menempatkan mereka di titik nadir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

( يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ )

[المجادلة: 11]

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

Dalam sebuah hadits disebutkan, Katsir bin Qais berkata, “Saya pernah duduk bersama Abu Ad Darda’ di masjid wilayah Dimasyqi, lalu ada seseorang datang seraya berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku ini datang dari Madinah Al-Munawwarah, aku menjumpaimu hanya untuk mendengar satu hadits yang pernah engkau riwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak datang untuk urusan dunia, lalu Abu Ad Darda’ berkata, saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu syar’i, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan jalannya masuk ke dalam surga. Dan sesungguhnya para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiansa akan membentangkan sayapnya sebagai bentuk penghormatan mereka kepada para penuntut ilmu, dan semua makhluk yang ada di langit maupun yang ada di bumi bahkan ikan-ikan di laut akan memohonkan ampun baginya, dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan ahli ibadah seperti keutamaan bulan disaat purnama dibandingkan dengan bintang-bintang. dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta), namun warisan mereka adalah ilmu, barangsiapa yang memilikinya maka ia telah mendapatkan keuntungan yang besar.” (HR. Abu Dawud)

Hadits di atas jelas menyebutkan beberapa keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Di antaranya, ilmu merupakan salah satu jalan mudah menuju surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan penghormatan kepada para penuntut ilmu dengan membentangkan sayapnya, dan para makhluk ikut memohonkan ampun bagi para penuntut ilmu. Sungguh sebuah keutamaan yang tak terbayangkan nilainya.

Dalam hadits lain disebutkan, pengetahuan seseorang akan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi salah satu tanda kecintaan dan keinganan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menganugerahkan kebaikan yang melimpah kepada orang tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَاللَّهُ الْمُعْطِي وَ الْقَاسِمُ، وَلاَ تَزَالُ هَذِهِ الأُمَّةُ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan baginya limpahan kebaikan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya paham dan mengilmui Islam ini, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pemberi dan pembagi rahmat, dan umat ini akan senantiasa melawan orang-orang yang menyelisihi mereka., sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemenangan kepada mereka.”

Begitu mulia dan tingginya derajat orang-orang berilmu, seorang Muslim bahkan dibolehkan memiliki perasaan cemburu yang positif kepada mereka. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, “tidak dibolehkan seseorang memendam perasaan iri dan cemburu kecuali kepada dua golongan, yaitu pertama, orang yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala harta yang melimpah, lalu orang tersebut membelanjakannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, seorang hamba yang dikaruniai ilmu yang banyak, lalu hamba tersebut mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari)

Mutharrif ibnu Syukhair berkata: “Keutamaan ilmu jauh lebih banyak dan lebih baik dibanding dengan keutamaan amal, dan tanda kesempurnaan keberagamaan kalian adalah ketika kalian telah memiliki sifat wara’ (berhati-hati terhadap hal-hal yang meragukan).”

Imam Asy Syafi’i mengatakan: “Menuntut ilmu lebih utama dan lebih dianjurkan dibandingkan dengan shalat sunnah.”

Umar bin Al-Khattab, ketika berada di Madinah Al-Munawwarah didatangi oleh Nafi’ Ibnual Harits al Khuza’i salah seorang pegawainya yang bertugas di Makkah. Ia bertanya kepada Nafi’, ‘Kepada siapa engkau amanahkan tugas-tugasmu di Makkah? beliau menjawab, aku serahkan ke salah seorang budak saya di sana. Lalu Umar ibnu al Khattab bertanya keherenan, engkau serahkan ke seorang budak? Nafi’ menjawab, ia seorang budak yang sangat memahami Al-Qur’an dan menguasai ilmu Faraidh (waris). Kemudian Umar ibnu Al-Khattab berkata sambil memperlihatkan ketenagannya, aku teringat Sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajat sebagian hamba dengan Al-Qur’an dan akan merendahkan derajat sebagian yang lain.”

Kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Allah azza Wajalla…

Menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia merupakan salah satu sarana terpenting untuk mencapai kecintaan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan menjadi jalan termudah menuju surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi perlu disadari bahwa dalam proses menuntut ilmu ada beberapa aturan dan persyaratan yang harus terpenuhi sehingga menjadi amal ibadah yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya, seorang penuntut ilmu harus memiliki niat yang ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

)وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ)[البينة: 5]

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendapatkan kesenagan duniawy semata, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengizinkannya mencium bau surga di akhirat kelak.” (HR. Abu Dawud)

Imam Muslim, juga meriwayatkan sebuah hadits yang menyebutkan, “Kitab Al-Qur’an ini bisa menjadi penolong bagi seorang hamba sebagaimana ia dapat pula menjadi bala’ (pemberat siksaan) baginya.”

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “menuntut ilmu adalah ibadah yang tak tertandingi selagi seseorang memiliki keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. kemudian beliau ditanya, bagaimana cara menumbuhkan keikhlasan dalam diri tatkala seseorang menuntut ilmu? Beliau mejawab, ia berniat untuk menghapuskan kejahilan dari dirinya dan dari orang lain.”

Dalam buku Tadzkiratu as Sami’ halaman 38 disebutkan, Ibnu Jamaah berkata, “Ketahuilah bahwa seluruh keutamaan yang berkaitan dengan ilmu dan ulama hanya dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para ulama’ yang shalih lagi bertakwa dan mengamalkan ilmu mereka, hanya mengharapkan keridhaan, kecintaan dan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keutamaan tersebut tidak diperuntukkan bagi mereka yang tidak ikhlas atau mereka yang memiliki niat buruk saat menuntut ilmu. Demikian bagi mereka yang menuntut ilmu agar mendapatkan kesenangan duniawi semata, baik dalam bentuk keinginan untuk mendapatkan jabatan, harta, penghormatan manusia, atau perasaan bangga karena memiliki pengikut yang banyak.”

Persoalan lain yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu adalah menyusun prioritas dalam menuntut ilmu. Setiap penuntut ilmu hendaknya dimulai dari yang terpenting kemudian yang penting dan begitu seterusnya. Kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil lalu menghafalkannya menjadi prioritas utama dalam menuntut ilmu, kemudian diikuti dengan mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tak kalah penting adalah mengamalkan apa yang telah diketahuinya sesuai dengan kemampuan maksimal.

Imam Asy syafi’i mengatakan, “ilmu bukan hanya sebatas pengetahuan yang dihafalkan, namun hakikat ilmu adalah pengetahuan yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.” Ilmu yang benar adalah ilmu yang dapat menumbuhkan perasaan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendatangkan ketenangan, kedamaian, kekhusyuan, dan sikap tawadhu’ (rendah hati) di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Umar Ibnu Al-Khattab berkata, “Tuntutlah ilmu niscaya kalian akan merasakan hakikat ketenangan dan kedamaian.” (Tadzkiratu as sami’ hal 44)

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ


الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala ….

Berikut ini beberapa kisah para ulama terdahulu yang menggambarkan perjalanan mereka dalam menuntut ilmu. Bagaimana mereka mengadakan perjalanan jauh dan mengorbankan semua yang mereka miliki. Semoga kisah-kisah ini dapat menginspirasi dan memotivasi kita dalam menuntut ilmu syar’i.

‘Ali ibnu Ahmad Al-Khuza’i menceritakan kisah Abdurrahman Ibnu Abi Hatim dalam menuntut ilmu, ia berkata: “Saya pernah mendengar Abdurrahman Ibnu Abi Hatim berkata: “Engkau tidak akan pernah memperoleh ilmu syar’I dengan memanjakan jasad. Dulu, saat kami tinggal di Mesir selama tujuh bulan, selama itu kami tidak pernah mencicipi masakan berkuah. Karena setiap hari kami harus menghadiri majelis beberapa syekh, di pagi hari kami berada di majelis syekh tertentu, di siang hari kami pindah ke majelis syekh yang lain demikian pula waktu ashar kami hadir di majelis yang lain. di malam hari kami isi dengan mencatat dan saling mencocokan tulisan, membenarkan jika ada yang salah atau terlupa. Saya ditemani oleh seorang teman yang berasal dari daerah Khurasan, jika ia membaca tulisannya maka saya mendengarkan, sebaliknya jika saya membaca tulisan saya ia pun mendengarkannya. Apa yang saya catat ia tidak catat demikian pula pelajaran yang ia catat saya tidak catat. Suatu ketika kami mendatangi majelis salah seorang syekh, setibanya di sana mereka mengatakan syekh tersebut sedang sakit, kami pun lantas kembali. Dalam perjalanan pulang kami melihat seekor ikan yang sudah tersobek mulutnya dan mengeluarkan cairan kuning, seketika kami merasa heran, belum sempat kami istrahat di rumah, kami sudah harus keluar untuk menghadiri majelis salah seorang syekh, dan kami bermajelis selama tiga hari penuh. Ketika sampai di rumah kami menemukan ikan tersebut telah membusuk lalu kami memakannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya: mengapa kalian tidak meminta orang untuk menjemur atau menanaknya? Beliau menjawab: kami tidak punya waktu lowong dan senggang.” (siyaru a’lami an nubala’ 13/266)

Syu’bah ibnu Al-Hajjaj bejalan kaki dari Bashrah menuju Makkah Al-Mukarramah lalu ke Madinah Al-Munawwarah kemudian kembali ke Bashrah hanya untuk melakukan crosscheck terhadap kebenaran satu hadits yang pernah didengarnya.”

Kisah di atas memberikan gambaran tentang mujahadah para ulama dalam menuntut ilmu. Adakah di antara kita yang termotivasi dan mengambil pelajaran dari dua kisah di atas?

Para penuntut ilmu yang budiman ….

Sudah sepatutnya bagi kita untuk senantiasa bermawas diri, jangan samapi kita tertipu dengan diri sendiri, menganggap diri kita sebagai seorang yang berilmu namun tidak mengerti apa-apa. Patut kita merenungkan perkataan imam Asy Syafi’i berikut ini: “Sikap tawadhu” (rendah hati) sangat membantu dalam proses menuntut ilmu. Hendaknya engkau selalu merasa dan memposisikan diri sebagai orang yang masih belajar dan akan belajar dari siapapun. Apakah orang tersebut lebih rendah keilmuannya dibanding dengan Anda atau orang yang sederajat dengan Anda atau orang yang lebih pintar dari Anda.”

Said ibnu Jubair berkata, “Seseorang akan senantiasa di anggap seorang ‘alim selama ia masih terus belajar. Jika ia berhenti belajar dan menganggap dirinya telah pandai dan merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya, maka sebenarnya ia termasuk orang yang paling bodoh.” (Tazkiratu As Sami’ hal. 60)

Biografi para orang-orang shalih terdahulu menunjukkan, kadang mereka mempelajari sesuatu yang belum mereka ketahui dari murid-murid mereka. Imam Al-Humaidi, salah seorang murid Imam Asy Syafi’i, berkata, “saya pernah menemani Imam Asy Syafi’I dalam perjalanan dari Makkah menuju Mesir, selama perjalanan saya banyak belajar dari Imam Asy Syafi’i, namun kadang beliau mengambil hadits dariku.”

Imam Ahmad Ibnu Hanbal berkata, “Imam Asy Syafi’i berkata kepada kami, “kalian lebih paham masalah hadits dariku, jika ada satu hadits yang shahih menurut kalian maka sebutkanlah kepada agar aku menjadikannya sebagai dalil bagi pendapatku.”

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah …

Bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pelajarilah agama-Nya agar kalian dapat menyembah-Nya sesuai dengan cara yang diinginkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah bahwa orang-orang yang berlimpah kebaikan adalah mereka yang bertafaqquh dalam agama ini. Pengetahuan yang benar tentang ajaran Islam merupakan kunci dari segala kebaikan dan pondasi amal shalih. Hanya dengan ilmu seseorang dapat menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan baik dan benar. Dengan ilmu seorang hamba tahu bagaiman cara berwudhu dan mandi junub yang benar. Dengan ilmu ia dapat mengerjakan shalat dan puasa sesuai dengan anjuran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Dengan ilmu seorang hamba dapat menunaikan zakat, haji, umrah. Kemampuan membedakan antara perkara-perkara wajib dengan perkara-perkara sunnah, bagaimana seorang hamba memilih jalan hidayah disaat dia dikelilingi oleh belantara khurafat, bid’ah dan tahayyul, bagaimana seseorang bermuamalah sesuai syar’i, melaksanakan akad pernikahan yang benar, bagaimana cara menghapus dosa-dosa masa lalu, bagaimana menjadi seorang Muslim yang inspiratif bagi orang lain, semuanya hanya dapat dijalani dengan apik berkat ilmu yang dimiliki. Bahkan ketenangan dan keceriaan di Hari Akhir sangat ditentukan oleh ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dalam sebuah Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan “Apabila seorang hamba telah meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.”

Sebagai penutup, saya mengajak kepada para pengambil kebijakan di negeri ini yang masih mengikuti bisikan nurani yang bersih, perlu kiranya dilakukan revisi terhadap kurikulum pendidikan di semua jenjang dan tingkatan. Terutama kurikulum pendidikan agama. Karena kurikulum yang ada saat ini hanya melahirkan orang-orang yang tidak memiliki ideologi yang kuat. Dengan mudah mereka terpedaya oleh bisikan syetan yang mengajak mereka melakukan pelanggaran sana sini, sehingga yang muncul keburukan dan kemudharatan yang semakin hari semakin menumpuk.

Sekali lagi bertakwalah kepada Allah dan sadarilah bahwa kualitas kebergamaan kita ditentukan oleh sejauh mana tingkat pengetahuan dan pemahaman kita terhadap ajaran Islam. Ketahui pula bahwa suatu amalan dianggap sah dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala manakala amalan tersebut baik dan benar sesuai dengan dasar yang kuat dan dalil yang jelas. Suatu amal tidak dianggap benar jika tidak didukung oleh ilmu yang shahih.

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) [الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

( رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا) [الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ) [آل عمران: 8]

( رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )[البقرة: 201]

عبَادُ اللَّهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعِدْلِ والإحسان وإيتاء ذى الْقربى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكِرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكِرُونَ فَاِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ .