facebookgoogle plustwitteryoutube

4720

Oleh: Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )[آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )[النساء: 1] (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 71)[الأحزاب: 70-71]

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…

Pembahasan kali ini adalah topik yang penting setiap Muslim dan Muslimah, sebuah pembahasan yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai inti agama, sebuah pekerjaan yang menjadi amalan setiap Nabi dan Rasul. Pembahasan yang dimaksud adalah nasihat. Nasihat sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Khathtabi Rahimahullah adalah,

إرادة الْخَيِّرَ للمنصوح لَهُ

“Keinginan baik terhadap objek yang dinasihati.”

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…

Nasihat adalah satu di antara asas dan pondasi agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« الدِّينَ النَّصِيحَةُ ، الدِّينَ النَّصِيحَةُ ، الدِّينَ النَّصِيحَةُ ، قَالُوا : لَمِنْ يا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : لله وَلِكُتَّابِهُ وَلِرَسُولِهُ ولآئمة الْمُسَلَّمَيْنِ وَعَامَّةَهُمْ »

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Para sahabat bertanya, ‘Nasihat buat siapa ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, ‘Nasihat untuk Allah, Rasul, para pemimpin kaum Muslimin dan untuk masyarakat secara umum.”Nasihat kepada Allah, bermakna ikhlas dan sungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah. Ia menjadi hamba yang benar, ridha terhadap seluruh ketentuan dan pemberiannya, dan melaksanakan seluruh perintah, serta menjauhkan diri dari segala larangan. Seluruhnya dilakukan secara ikhlas, bukan karena riya’ (ingin dilihat orang), juga bukan karena sum’ah (ingin didengar orang).

Nasihat terhadap kitabullah berarti membaca, melaksanakan segala perintah Allah di dalamnya, menjauhkan diri dari segala larangan. Membenarkan segala berita yang disampaikan di dalamnya, berupaya untuk menjaga keotentikannya dari segala bentuk penistaan. Dan juga meyakini dengan sebenarnya bahwa Al-Qur’an itu adalah perkataan Allah yang disampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perantara Malaikat Jibril.

Nasihat kepada Rasul-Nya diwujudkan dengan cinta, mengikuti tuntunannya, menolongnya, dan mendulukan perkataan dan petunjuknya dari segala perkataan dan petunjuk selainnya.

Nasihat kepada para pemimpin, dengan bersikap loyal dalam membantu mereka mewujudkan cita-cita umat di dunia dan di akhirat. Mengakui mereka sebagai pemimpin dan taat terhadap perintah selama dalam kebaikan. Segala bentuk perselisihan terhadap mereka pastilah akan berakhir dengan kekacauan dan perpecahan. Hal itu disebabkan karena jika setiap orang ingin memenangkan pendapat pribadi, akan menimbulkan kekacauan, dan perpecahan. Karena itu, banyak keterangan dalam syariat yang berisi perintah untuk taat dan patuh kepada pemerintah dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا) [النساء: 59]

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (para pemimpin) di antara kamu.” (An-Nisaa’: 59)

Adapun nasihat yang ditujukan kepada seluruh kaum Muslimin diwujudkan dengan mencintai mereka, membuka pintu-pintu kebaikan, mengajak berbuat kebaikan, menutup celah yang dapat menjerumuskan kepada kehancuran, membagi kebahagiaan, mempererat persaudaraan, menebar kebaikan, menutup kesalahannya, menolong yang zhalim yaitu dengan mencegahnya dari perbuatan itu, dan menolong orang-orang yang terzhalimi.

Demikianlah hadirin yang berbahagia, makna nasihat dengan seluruh cakupannya. Ketika sebuah komunitas melaksanakannya secara baik, niscaya mereka akan hidup dengan penuh kebahagiaan dan ketentraman. Dari uraian ini pula diketahui bahwa nasihat menjadi bagian dari agama secara keseluruhan.

Hadirin yang dirahmati Allah...

Beberapa hal yang hendaknya diperhatikan oleh seorang yang memberi nasihat kepada saudaranya adalah:

Nasihat yang disampaikan harus didasarkan karena niat ikhlas semata untuk mendapat ridha Allah, bukan karena riya’ dan sum’ah. Allah berfirman,

) وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ([البينة: 5]

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan kemurnian ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Nasihat yang disampaikan hendaknya berdasarkan ilmu dan fakta yang valid terhadap materi. Masalah yang dialami oleh orang yang diberi nasihat, karena kebenaran hukum yang dijatuhkan terhadap sebuah masalah sejalan dengan kebenaran gambaran dari masalah itu.

Nasihat disampaikan secara amanah. Allah berfirman, menceritakan pernyataan Nabiyullah Hud Alaihissalam kepada kaumnya,

(أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ )[الأعراف: 68]

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan Aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.” (Al-A’raf: 68)

Nasihat hendaklah disampaikan secara tertutup. Namun jika tidak ada ruang untuk memberi nasihat secara tertutup, khususnya pada kesalahan-kesalahan syar’iyyah yang telah disepakati, maka tidak mengapa menyampaikannya secara terbuka.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…

Seorang yang mencermati kehidupan para salaf akan menemukan banyak hal memukau berkenaan dengan nasihat dan penerimaan mereka terhadap setiap nasihat yang disampaikan kepadanya.

Suatu ketika, Hasan Al-Bashri tokoh terkemuka dari kalangan tabi’in berkata kepada seorang laki-laki yang pulang sehabis mengantar jenazah. “Tahukah kamu, jika saja sang mayit ini bisa kembali ke dunia, niscaya ia akan menghabiskan sisa usianya untuk beramal shalih. Laki-laki itu berkata, “Ya.” Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Kalau kamu pun menyadari hal itu, dan kamu tahu bahwa angan-angan untuk bisa kembali ke dunia adalah nihil, maka hendaklah kamu berusaha semaksimal mungkin untuk mendulang amal shalih sebanyak-banyaknya.”

Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berkata, “Sungguh tiada lagi kebaikan yang tersisa jika kami telah enggan menerima nasihat. Demikian juga kalian, tiada lagi kebaikan ketika kalian sudah tidak lagi mau menerima nasihat.”

Umar bin Khathtab Radhiyallahu Anhu berkata,”Semoga Allah merahmati orang yang telah menghadiahiku dengan nasihat terhadap aibku.”

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ


الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Kaum Muslimin yang berbahagia…

Allah berfirman,

(إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا )[الأحزاب: 72]

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh.” (Al-Ahzab: 72). Sungguh amanah Allah amatlah berat dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Sudahkah kiat menyiapkan jawaban terhadap amanah yang dipikulkan tersebut?

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kita untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Amanah tidak hanya terbatas pada pembayaran utang atau penyerahan titipan kepada yang berhak, namun cakupan amanah dalam Islam begitu luas. Seorang imam atau pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Seorang ayah pemimpin bagi keluarganya. Demikian juga seorang ibu, pemimpin yang mengatur dan menjaga keadaan rumah agar selalu dalam keadaan nyaman. Mereka seluruhnya akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Amanah adalah menegakkan syariat Allah di dalam jiwa dan dalam kehidupan manusia secara umum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

) الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ)[الحج: 41]

“Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.”

Shalat adalah bagian dari amanah, bahkan yang terbesar setelah syahadat. Barangsiapa menyia-nyiakannya, tentu ia akan semakin lalai dibanding dengan amanah yang lebih ringan. Hal inilah yang tergambar dalam ekspresi kesedihan seorang sahabat bernama Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu ketika berkunjung ke Damaskus. Ketika itu ia menangis, dan ditanyakan kepadanya hal yang membuatnya bersedih. Lantas ia berkata,

لَا أَعرفَ شِيئَا مِمَّا أَدْرَكْتُ إلّا هَذِهِ الصَّلاَةَ ، وَهَذِهِ الصَّلاَةَ قَدْ ضُيِّعَتْ .”( رَوَى الْبُخَارِيُّ فِي كُتَّابِ ‹ مَوَاقِيتِ الصَّلاَةِ ‹ بَابَ تَضْيِيعِ الصَّلاَةِ عَنْ وَقْتِهَا )

“Saat ini saya tidak lagi mendapatkan sebuah kebaikan yang dahulu pernah saya dapati melainkan shalat. Namun saat ini, ternyata shalat itu pun telah dilalaikan.”

Zakat juga amanah. Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu Anhu memerangi kaum yang menolak untuk membayarnya, dan menyatakan mereka sebagai orang yang telah murtad. Puasa dan haji pun demikian. Dakwah di jalan Allah adalah amanah. Amanah adalah keteguhan hati dalam keimanan, menunaikan hak kepada yang memilikinya dan istiqamah dalam menjalankan syariat agama hingga akhir hayat. Hiraklius pernah bertanya kepada Abu Sufyan tentang keteguhan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“ هَلْ يرتّد أحدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدَيَّنَهُ ؟ قَالَ : لَا , قَالَ : فَكَذَلِكَ الإيمان حِينَ تَخَالُطِ بَشاشَتِهُ الْقَلُوبَ .”

“Adakah seorang dari mereka yang keluar dari Islam karena tidak senang dengan aturannya? Abu Sufyan berkata, ‘Tidak’. Hiraklius berkata, ‘Demikianlah pengaruh dari iman yang telah tertanam secara baik di dalam lubuk sanubari.”

Karena keteguhan ini pula, maka seorang bocah dalam kisah ashaabul ukhdud rela mengorbankan jiwanya untuk memperjuangkan tauhid. Ia berkata kepada penguasa zhalim yang kala itu berusaha untuk membunuhnya, namun selalu mengalami kegagalan,

( إِنَّكِ لَنْ تُقَتِّلُنَّي حَتَّى تُقَوِّلَ بَاسِمَ رُبَّ الْغُلاَمِ ، فَفِعْلَ , فَقَالَ النَّاسِ جميعاً : آمنّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ )

“Sesungguhnya Anda tidak akan pernah berhasil membunuhku sebelum Anda berkata ‹Dengan menyebut nama Tuhannya anak ini (saya membunuhnya)›. Mendengar hal itu, sang raja pun melakukannya, (dan betullah bahwa sang anak itu terbunuh) Maka seluruh orang yang menyaksikannya pun berkata; ‹Sungguh kami telah beriman kepada Tuhannya anak ini.”

Sesungguhnya, manisnya iman baru akan terasa dengan sikap teguh dan istiqamah, sebagaimana sabda Rasulullah tentang tiga sifat dimiliki seorang Muslim, maka ia akan menemukan manisnya iman. Di antaranya adalah,

( أَنْ يَكَرَّهُ أَنْ يُعَوِّدَ فِي الْكَفْرِ كَمَا يَكَرَّهُ أَنْ يقدف ‹ فِي النَّارِ ‹)

“Ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak mau jika Allah mencampakkannya ke dalam api neraka…”

Amanah adalah kekuatan dalam melaksanakan kewajiban dan menjaganya, sebagaimana Yusuf Alaihissalam menjawab permintaan penguasa kala itu, yang berkata kepadanya,

( إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ 54 قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ55) [يوسف: 54-55]

“Dia berkata, ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami. Yusuf berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Berbakti kepada orang tua, menjaga harta kaum Muslimin, serta menjaga harga diri dan agama, termasuk bagian dari amanah yang harus dijaga. Perhatikanlah kisah tiga orang dari Bani Israil yang terkurung di dalam gua. Tidaklah mereka selamat dari gua tersebut melainkan karena amanah yang mereka jalankan. Satu di antara mereka berbakti kepada orang tua. Orang kedua menjaga harta titipan dan bahkan mengembangkannya, lantas memberikannya secara amanah kepada pemiliknya tanpa sedikit pun meminta pamrih. Dan orang ketiga menjaga kehormatan diri dan agama dari fitnah wanita yang sudah hadir dan menyerahkan diri di hadapannya, namun seketika ia tersadar dengan perkataan sang wanita, “Janganlah engkau merusak cincin kecuali dengan cara yang benar.” Termasuk dalam lingkup amanah adalah menjaga pendengaran, penglihatan, hati dan lisan, penjagaan terhadap ilmu dan pengamalan terhadap riwayat yang telah diketahui.

Hadirin yang berbahagia...

Amanah adalah melaksanakan segala hak kaum Muslimin, memenuhi hajat orang-orang miskin dan membantu orang-orang yang membutuhkan, menjaga kehormatan orang-orang yang telah menukil dan mendakwahkan ajaran agama ini dari Rasulullah sampai kepada kita saat ini. Karena itu, adalah merupakan tindakan khianat, ketika seorang mencela para sahabat Rasulullah.

Amanah adalah bersikap adil, memosisikan seorang sesuai dengan kedudukannya dan tidak mengurangi sedikit pun hak-haknya. Amanah adalah persaksian kepada Allah, nasihat kepada orang-orang Muslim, dan menjelaskan kebenaran.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah…

Hendaknya setiap kita bertakwa kepada Allah dan saling menasihati. Sesungguhnya agama ini adalah nasihat dan tidak ada kebaikan dari sebuah umat yang tidak saling memberi nasihat. Tunaikanlah amanah kepada yang berhak menerimanya, karena kelak Allah akan meminta kita untuk mempertanggungjawabkan amanah tersebut, yaitu di hari yang tidak lagi berguna harta dan keturunan. Ketika itu yang beruntung adalah seorang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat (bersih).

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِل(إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

(رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8]

(رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )[البقرة: 201]

عبَادُ اللَّهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعِدْلِ والإحسان وإيتاء ذى الْقربى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكِرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكِرُونَ فَاِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ